Dulu Pemulung, Kini Pria ini Menghidupi 100-an Lansia Terlantar

Rama 'Philips' merawat ratusan lansia di Panti Dhuafa Lansia Ponorogo miliknya
Usaha batu akik yang sempat booming membuat kehidupan Rama Philips berubah 180 derajat. Jika sebelumnya hanya sebagai pemulung yang miskin, kini menjadi jutawan. Kelebihan rezeki tidak lantas menjadikannya sebagai ‘kacang lupa pada kulitnya’. Ia justru getol berbagai kepada sesama.
------------ 
infomadiunraya.com, PONOROGO – Sejumlah tempat tidur berbahan bambu dan plesteran tembok berjajar. Tingginya sekitar 50 sentimeter dengan panjang dan lebar 160 x 50 sentimeter. Setelah dilapisi spon alias matras maupun tikar ranjang yang berderet itu hanya cukup ditiduri satu orang. 

Beberapa orang lanjut usia (lansia) sedang berbaring di sana, Kamis (18/7/2019) siang. Sebagian di antara mereka menatap langit-langit rumah di Desa Ngasinan, Kecamatan Jetis, Kabupaten Ponorogo. Pandangannya kosong.  Sesekali mereka merintih ketika hendak berpindah posisi berbaring. Aktivitas ini sulit dilakukan akibat penyakit stroke yang diderita. 

Melihat itu, Rama Philips selaku pemilik Panti Dhuafa Lansia Ponorogo trenyuh. Pria ini membantu seorang lansia yang kesakitan ketika hendak berganti posisi berbaring. 

“Ya, memang seperti ini keadaannya,” ungkap Rama Philips kepada jurnalis infomadiunraya.com yang singgah di panti lansia itu. 

Meski demikian, pria ini tetap konsisten dengan jalan hidup yang dipilih. Ia ingin membantu sesama manusia terutama para lansia dari keluarga miskin. Empatinya begitu kuat lantaran pernah mengalami penderitaan seperti para lansia yang kini ditampungnya. Terutama dari sisi kemelaratan. 
Sembilan tahun silam, ia hanya seorang pemulung. Saban hari harus berjibaku dengan sampah untuk mengais barang yang bisa dijual. Kotor, bau, dan pakaian compang-camping tidak digubris. Ini demi menghidupi anak dan istrinya. 

Pada tahun 2011, kondisi kejiwaan Rama drop selama beberapa hari. Hatinya terpukul karena harus kehilangan istrinya untuk selama-lamanya. Semangat hidupnya seolah ikut terkubur bersama jenasah perempuan yang disayangi. Hingga suatu ketika, Rama merasa dicambuk untuk kembali bangkit. Ia sadar anak semata wayangnya masih membutuhkan penopang hidup. 

Di saat semangat mulai pulih, bukan berarti Rama langsung kembali memungut sampah. Ia masih klontang-klantung sembari berpikir usaha lain. Ide membuka jasa servis lampu pun dipilih untuk memasuki dunia baru. 

Beberapa waktu sebelumnya, ia sempat belajar kepada seorang kawan untuk memperbaiki sarana penerangan itu. Sebagian besar bahan masih diambil dari tempat sampah, kemudian komponennya dicek ulang. Bila masih bisa digunakan maka disimpan. Kemudian dirangkai dengan komponen lain yang baru. 

Berkat jejaring dengan sesama pemulung maupun dengan pengepul rosok, Rama tidak kesulitan mendapatkan pasokan lampu bekas yang rusak. Meski banyak lampu sudah tidak berfungsi yang ditawarkan, ia hanya menerima satu merek yakni Philips. Sebab, dinilai lebih bandel jika harus ‘dikanibal’ dibandingkan merek lain. Karena itulah, ia lebih banyak dikenal dengan panggilan Rama Philips. 

Usaha dan nama belakang yang disematkan pada Rama, membuat pintu rezeki-nya terbuka lebar-lebar. Pada suatu hari, seorang konsumennya memperkenalkan tentang usaha batu akik. Dengan modal Rp 80 ribu pada tahun 2015, Rama berangkat ke Sawoo mencari batu akik jenis kalsedon. 

“Saya membeli bongkahannya. Lalu, saya potong-potong kecil-kecil saya jual. Dari Rp 80 ribu menjadi Rp 4 juta,” jelasnya 

Tidak sampai di situ, dia terus mengembangkan usaha batu akiknya. Hingga terkahir bisa berkembang menjadi Rp 486 juta. “Langsung saya investasikan tanah, rumah dan lain-lain,” jelasnya. 

Di saat menekuni bisnis batu akik, ia bertemu dengan seorang pria renta. Tubuhnya ringkih namun harus mengangkat beban berat sebagai kuli panggul. Hati Rama berdesir hebat. Secara spontan, ia mengikuti kakek itu pulang ke rumah. 

Percakapan pun berlangsung antara kedua pria itu. Dari situ diketahui bahwa si kakek dulunya seorang transmigran yang tidak memiliki keluarga. Dari perkawinannya tidak dikaruani anak. Bahkan, istrinya juga telah meninggal. 

“Mbah itu kembali ke Ponorogo hanya ada keponakan. Tapi diusir dari rumah dan harus kerja keras dan tinggal di sebuah gubuk seadanya,” kata Rama. 

Dari situ, Rama memutuskan menampung kakek sebatang kara itu. “Ya saya teringat nasib saya waktu jadi pemulung,” terangnya. Hingga akhirnya, ia menemukan lansia-lansia lain yang bernasib kurang beruntung. Sekarang sekitar 100-an lansia dan orang dengan gangguan jiwa telah ditampung. “Saya pernah seperti mereka,” Rama mengenang. 

Untuk menghidupi para lansia itu, Rama tidak lagi menggantungkan diri pada bisnis akik. Sebab, pamor batu alam itu sudah redup. Kini, ia menjual berbagai macam plastik. “Tuhan Maha Baik. Pasti ada pertolongan. Ada orang datang memberikan sumbangan atau lainnya,” tegasnya. 

‘Ringan tangan’ Rama akhirnya terdengar oleh Dinas Sosial Ponorogo, Magetan, Madiun, dan Trenggalek. Nota kesepahaman alias Memorandum of Understanding (MOU) pun diteken. Salah satu isinya, bekerjasama dalam menampung orang lansia terlantar. (mia/n_dian/IMR) 
0 Viewers



Related

Sosok 8912547650358021809

Ikuti Kami

Berita Teratas

video Viral

Total Tayangan Halaman

Side Ads

loading...
loading...
item